Home » Artikel » Hama di Permukiman dan Perkantoran

Hama di Permukiman dan Perkantoran

 
 

PENGENDALIAN HAMA / PEST CONTROL

atau

HUBUNGI 0251-9150511/ 0251-9130078

Setelah anda menghubungi kami, secepatnya akan kami kerjakan untuk anda

Hama permukiman dan Perkantoran

Keberadaan hama di lingkungan pemukiman berkaitan dengan proses berkembang biak, mencari makan, berlindung, dan proses istirahat. Lingkungan yang sesuai dengan kebiasaan hama maka hama tersebut akan tumbuh dan berkembang dengan cepat. Keadaan ruangan yang kurang ventilasi, kurang cahaya, lembab, kotor, banyak barang biasanya lebih d sukai oleh hama.

Tikus rumah
Tikus dan mencit merupakan rodens yang mudah sekali beradaptasi dengan lingkungan manusia. Seekor tikus dapat mengkonsumsi 10 persen dari bobot tubuhnya setiap hari, dengan kata lain dapat diperhitungkan sekitar 10-20 kg pakan per ekor per tahun. Musim panas dengan suhu cukup tinggi dipergunakan oleh tikus untuk melakukan perkawinan dan beranak.

Tikus rumah memiliki distribusi yang merata di seluruh dunia sehingga disebut hewan kosmopolitan. Rattus rattus diardii  tidak tinggal ditanah tetapi di semak-semak dan atau di atap bangunan. Bantalan telapak kaki tikus ini disesuaikan dengan kekuatan untuk menarik dan memegang dengan sangat baik. Hal ini karena dalam bantalan telapak kaki terdapat guratan-guratan beralur, sedang pda rodens penggali bantalan telapak kakinya halus.

Rodens termasuk binatang nokturnal, keluar sarangnya dan aktif pada malam hari untuk mencari makan. Diperlukan suatu kemampuan khusus agar tikus bebas uyntuk mencari makan dan menyelamatkan diri dari predator pada suasana gelap.
Metode pengendalian secara mekanis sering digunakan untuk mengendalian tikus rumah di Indonesia. Pengendalian yang dilakukan terhadap tikus rumah yaitu dengan perburuan. Selain dengan perburuan metode lain yang  sering dilakukan dengan pemasangan perangkap, lem tikus, dan pemberian racun. Pengendalian tikus dipermukiman dapt dilakukan dengan cara sanitasi yaitu memelihara lingkungan agar tidak sesuai dengan kehidupan dan perkembangan tikus rumah.

Lalat rumah
Penyebaran lalat ini hampir di seluruh dunia terutama di wilayah beriklim sedang. Lalat tergolong ke dalam Ordo Diptera, Subordo Cyclorrhapha. Ciri morfologi lalat rumah adalah tubuh berukuran sedang, ukuran 6-7 mm, berwarna abu-abu kehitaman dengan empat garis longitudinal pada toraks, imago memiliki alat mulut yang berfungsi untuk menjilat dan menghisap. Lalat rumah tidak menghisap darah.

Beberapa faktor yang mengakibatkan munculnya lalat diantaranya adalah makanan, kelembaban, bau, cahaya, dan adanya tempat yang aman serta nyaman untuk melangsungkan perkawinan dan bertelur.

Lalat dapat berperan sebagai pembawa dan penular penyakit, diantaranya virus (pox, trachoma), bakteri  (kolera, tifus dan paratifus, disentri, salmonellosis, antrax, conjunctivitis, lepra), protozoa (amuba, giardiasis), dan cacing (ascariasis, enterobiasis, necatoriasis, trichuriasis).

Metode pengendalian dilakukan antara lain dengan menggunakan insektisida. Sanitasi yang baik serta menjauhkan lalat dari sumber makanannya akan menghambat populasi dari lalat permukiman.

Nyamuk
Nyamuk dapat menimbulkan penyakit diantaranya demam berdarah dan demam kuning; malaria;chikungunya dan japanese encephalitis; dan filariasis.

Tiap spesies nyamuk hanya hidup dan berkembang biak pada beberapa macam habitat tertentu saja, oleh karena itu keadaan lingkungan suatu daerah menentukan spesies nyamuk yang terdapat di daerah itu. Pengamatan padat populasi nyamuk menunjukkan suatu peningkatan padat populasi pada peralihan musim hujan ke musim kemarau.

Ciri morfologi nyamuk yaitu bertubuh langsing dengan ukuran 3-6mm, sayap sempit, tungkai panjang, kepala bulat dengan mata majemuk, alat mulut panjang pada nyamuk betina yang digunakan untuk menghisap darah. Siklus hidup nyamuk mengalami metamorfosis sempurna, telur – larva – pupa – dewasa.

Cara yang dilakukan untuk menghambat populasi nyamuk antara lain dengan cara fumigasi, insektisida, mekanik, dan sanitasi.

Semut
Semut merupakan serangga sosial yang hidup dalam sarang yang lebih kurang bersifat permanen. Perilaku semut berbeda-beda, ada yang predator, pemakan bangkai, pemakan cairan tanaman, atau secara umum yang mengandung gula, atau pemakan segala. Semua itu beraktifitas di dinding bangunan, dapur, rumput, batu, atau batu-batuan.

Ciri morfologi semut yaitu tubuhnya terbagi dalam tiga bagian; kepala, toraks, dan abdomen. Semut memiliki sepasang mata majemuk dan sepasang antena berbentuk siku, namun terkadang berbentuk oseli, sayap transparan dengan sayap depan lebih panjang dibandingkan sayap belakang.

Koloni semut terdiri dari tiga kasta yaitu jantan, ratu, dan pekerja. Jantan merupakan semut dewasa bersayap yang bertugas untuk kawin dengan betina. Setelah kawin betina akan menghasilkan telur. Telur yang dibuahi oleh jantan akan menghasilkan semut betina sedangkan yang tidak dibuahi akan menjadi jantan. Ratu memiliki tubuh yang paling besar, dapat hidup lebih dari 15 tahun. Semua tugas koloni diatur oleh betina. Pada waktu tertentu dalam satu tahun, akan dihasilkan banyak jantan bersayap dan betina reproduksi. Mereka akan terbang berkerumun mendekati arah cahaya, dan kemudian terjadi perkawinan, jantan akan mati seketika. Betina yang berhasil melakukan perkawinan akan melepaskan sayapnya dan mencari sarang untuk membentuk suatu koloni baru. Biasanya orang lebih sering menyebutnya dengan nama ‘laron’.

Metode pengendalian yang biasa digunakan yaitu penggunaan insektisida dan pengendalian secara langsung. Pengendalian langsung yang dilakukan yaitu dengan memutus siklus daur hidup semut (memusnahkan telurnya).

Kecoak
Ciri morfologi kecoa adalah badan berwarna hitam/coklat, badan mengkilap, berbentuk pipih, sepasang antena yang panjangnya melebihi badannya, kepala menunduk ke bawah dan mulut mengarah ke belakang. Hewan jantan memiliki sepasang sayap sedangkan hewan betina tidak memiliki sayap.

Kecoa dapat dijumpai di berbagai tempat antara lain perumahan, hotel, restaurant, supermarket, pabrik, bioskop, dan lain-lain.

Kecoa merupakan serangga omnivora pemakan pakan manis, daging dan sayuran. Selain itu kecoa sendiri sering memakan bangkai serangga itu sendiri, sisa-sisa makanan, dan kertas. Kecoa dapat menularkan penyakit streptococci dan Salmonella.

Pengendalian yang biasa dilakukan yaitu dengan penyemprotan insektisida dengan alat manual atau penyemprotan dengan menggunakan alat motor.

Jika anda memiliki keluhan seputar hama silahkan menghubungi Pest Control Jakarta, maka kami siap membantu.


Post a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *